Blog

Trump Disebut Akan Jual Mobil Tesla Miliknya Usai Ribut dengan Elon Musk

samsguesthouse.com, 08 MEI 2025

Penulis: Riyan Wicaksono

Editor: Muhammad Kadafi

Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88  

 

Ribut dengan Elon Musk, Trump Buang Mobil Listrik Mewahnya - AlongWalker    

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan miliarder teknologi Elon Musk, yang sebelumnya tampak harmonis, kini telah berubah menjadi konflik terbuka yang menarik perhatian dunia. Konflik ini mencapai puncaknya pada awal Juni 2025, ketika Trump dikabarkan berencana menjual mobil Tesla berwarna merah yang dibelinya pada Maret 2025. Mobil tersebut, yang diperkirakan bernilai sekitar 80.000 dolar AS (setara Rp1,3 miliar dengan kurs Rp16.258 per dolar), awalnya dibeli sebagai simbol dukungan Trump terhadap Musk, yang saat itu merupakan donatur besar dan penasihat strategis dalam pemerintahan Trump.

Namun, hubungan keduanya memburuk setelah Musk, yang menjabat sebagai Kepala Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), secara terbuka mengkritik rancangan undang-undang (RUU) pemotongan pajak dan belanja yang diusung oleh Gedung Putih. Musk menyebut RUU tersebut sebagai “kekejian” yang berpotensi menambah utang nasional AS hingga 2,4–5 triliun dolar. Kritik ini memicu kemarahan Trump, yang menuding Musk hanya kecewa karena RUU tersebut menghapus insentif pajak untuk kendaraan listrik, yang berdampak langsung pada bisnis Tesla. Sebagai respons, Trump mengancam akan membatalkan kontrak-kontrak pemerintah dengan perusahaan-perusahaan milik Musk, termasuk SpaceX dan Tesla, yang telah menerima miliaran dolar dari pemerintah AS.

Kronologi Peristiwa

 

Perseteruan Berlanjut, Trump Bakal Jual Mobil Tesla Miliknya

 

Pada Kamis, 5 Juni 2025, konflik antara Trump dan Musk memanas di ranah publik. Musk, melalui platform media sosial X yang dimilikinya, menanggapi unggahan pengguna yang menyerukan pemakzulan Trump dengan satu kata: “Yes.” Pernyataan ini langsung viral, meskipun peluang pemakzulan Trump di Kongres yang dikuasai Partai Republik sangat kecil. Musk juga mengklaim bahwa tanpa dukungannya, termasuk sumbangan hampir 300 juta dolar untuk kampanye Trump dan Partai Republik, Trump tidak akan memenangkan pemilu 2024. “Tanpa saya, Trump pasti kalah. Betapa tak tahu berterima kasihnya dia,” tulis Musk di X.

Sehari kemudian, pada Jumat, 6 Juni 2025, pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan untuk menjual mobil Tesla-nya. Kendaraan listrik merah yang diparkir di halaman Gedung Putih itu menjadi simbol keretakan hubungan antara kedua tokoh ini. Menurut laporan The New York Times, Trump menunjukkan sedikit minat untuk berinteraksi dengan Musk setelah perseteruan ini, meskipun Musk sempat mencoba meredam ketegangan dengan membatalkan ancamannya untuk menonaktifkan pesawat luar angkasa Dragon milik SpaceX, yang digunakan untuk misi NASA ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Dampak pada Pasar dan Tesla

 

Tesla Milik Donald Trump Dijual Setelah Perseteruan dengan Elon Musk Makin  Panas - Poros Jakarta

 

Perseteruan ini tidak hanya berdampak pada hubungan pribadi antara Trump dan Musk, tetapi juga mengguncang pasar keuangan. Pada Kamis, 5 Juni 2025, saham Tesla anjlok lebih dari 14%, menghapus sekitar 100–150 miliar dolar dari kapitalisasi pasar perusahaan. Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sehari dalam sejarah Tesla. Kekayaan pribadi Musk juga terdampak signifikan, dengan kerugian mencapai 34 miliar dolar (sekitar Rp544 triliun) dalam satu hari, menurut Bloomberg Billionaires Index.

Namun, pada perdagangan awal Jumat, 6 Juni 2025, saham Tesla mulai pulih, menunjukkan volatilitas pasar yang dipicu oleh ketidakpastian hubungan antara Musk dan Trump. Analis pasar dari Global Guardian, Zev Faintuch, memperingatkan bahwa jika “perang dingin” antara keduanya berlanjut, sektor teknologi dan luar angkasa AS bisa menghadapi guncangan lebih lanjut.

Menariknya, setelah Musk mengundurkan diri dari pemerintahan Trump pada pekan berikutnya, fokusnya kembali ke Tesla bertepatan dengan lonjakan penjualan mobil listrik perusahaan tersebut. Data dari JATO Dynamics menunjukkan bahwa pada April 2025, penjualan Tesla di Eropa sempat dilampaui oleh BYD, produsen mobil listrik asal China. Namun, kembalinya Musk ke manajemen Tesla tampaknya memberikan dorongan baru bagi perusahaan, meskipun persaingan dengan BYD dan pabrikan China lainnya tetap ketat.

Simbolisme Mobil Tesla

Warganet Bertanya Apa Mobil Favorit CEO Tesla, Ini Jawaban Elon Musk -  GridOto.com

 

Mobil Tesla merah milik Trump, yang awalnya dimaksudkan sebagai simbol dukungan politik dan bisnis, kini menjadi representasi kecanggungan akibat “perceraian politik” antara Trump dan Musk. Pada pekan sebelum konflik memuncak, Sekretaris Pers Trump, Karoline Leavitt, dan penasihat komunikasi Margo Martin berpose di dalam mobil tersebut, dengan Martin mengunggah foto di X dengan caption, “Mengemudikan Tesla milik Presiden Trump.” Namun, setelah perseteruan, mobil itu tetap terparkir di Gedung Putih, menjadi pengingat hubungan yang retak.

Laporan dari AFP menyebutkan bahwa mobil ini, yang dibeli pada Maret 2025, merupakan bagian dari strategi Trump untuk menunjukkan solidaritas dengan Musk di tengah kritik terhadap peran Musk dalam pemerintahan. Pada saat itu, Musk menghadapi protes besar-besaran akibat kebijakannya memangkas jumlah pegawai federal, yang memicu demonstrasi di dealer-dealer Tesla di seluruh AS. Trump bahkan sempat berdiri di samping mobil Tesla Model S merah itu pada Maret 2025, mengumumkan pembeliannya sebagai tanda kepercayaan kepada Musk.

Risiko Politik dan Ekonomi

Konflik ini membawa risiko besar bagi kedua belah pihak. Bagi Trump, perseteruan dengan Musk mengancam dukungan finansial yang signifikan. Musk, yang menghabiskan sekitar 275 juta dolar untuk membantu Trump terpilih pada 2024, berjanji akan menyumbang 100 juta dolar lagi untuk kelompok-kelompok yang dikendalikan tim Trump menjelang pemilu sela 2026. Namun, setelah konflik ini, dana tersebut kini diragukan akan terealisasi.

Bagi Musk, ancaman Trump untuk membatalkan kontrak pemerintah dengan SpaceX, Tesla, dan Starlink dapat berdampak serius. SpaceX, misalnya, memiliki kontrak senilai miliaran dolar dengan NASA dan Angkatan Udara AS, termasuk misi ke ISS dan pengembangan satelit Starlink. Jika ancaman Trump terwujud, hal ini bisa mengganggu operasi perusahaan-perusahaan Musk dan melemahkan posisinya di pasar global.

Selain itu, keterlibatan politik Musk telah memicu protes konsumen dan investor. Di AS, gerakan “Tesla Takedown” muncul di berbagai dealer Tesla, dengan beberapa stasiun pengisian daya Tesla menjadi sasaran vandalisme. Di Eropa, dukungan Musk untuk partai sayap kanan juga memicu boikot terhadap Tesla, memperburuk penurunan penjualan di pasar penting ini. Analis Morningstar, Seth Goldstein, mencatat bahwa Tesla kehilangan daya tariknya di kalangan konsumen yang mengidentifikasi merek ini dengan nilai-nilai lingkungan dan progresif.

Konteks Hubungan Sebelumnya

Sebelum konflik ini, Trump dan Musk memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Musk, yang secara resmi mendukung Trump pada 2024, menyumbang dana besar untuk kampanye presiden dan membantu mengembalikan Trump ke platform X setelah akunnya diblokir. Trump, di sisi lain, menunjuk Musk sebagai Kepala DOGE dan berjanji untuk melonggarkan regulasi yang menguntungkan Tesla. Pada Januari 2025, Trump mengumumkan bahwa Musk akan memimpin upaya untuk membongkar birokrasi pemerintah, sebuah langkah yang awalnya disambut baik oleh pasar.

Namun, keterlibatan Musk dalam politik juga membawa tantangan. Protes terhadap kebijakan pemangkasan anggaran federal yang dipimpin Musk menyebabkan penurunan saham Tesla sebesar 15% pada Maret 2025. Kapitalisasi pasar Tesla, yang sempat mencapai 1,5 triliun dolar pada Desember 2024, tergerus signifikan akibat kombinasi protes, persaingan dengan BYD, dan kekhawatiran investor bahwa Musk terlalu fokus pada politik ketimbang bisnis.

Reaksi Publik dan Media

Perseteruan ini menjadi sorotan utama di media global. The New York Times menyebut mobil Tesla Trump sebagai “salah satu korban nyata pertama dari aliansi mereka yang hancur.” CNBC Indonesia menggambarkan konflik ini sebagai “pertarungan dramatis” yang mengguncang pasar dan politik AS. Sementara itu, postingan di platform X mencerminkan sentimen publik yang beragam, dengan beberapa pengguna mendukung Musk dan lainnya mengkritiknya karena dianggap “mengkhianati” Trump.

Pejabat Rusia bahkan memanfaatkan situasi ini untuk menyindir Trump dan Musk, dengan salah satu diplomat mereka mengajak Tesla untuk memindahkan operasinya ke Moskwa. Hal ini menunjukkan bagaimana konflik pribadi antara dua tokoh ini memiliki implikasi geopolitik yang lebih luas.

Masa Depan Hubungan Trump-Musk

Belum jelas apakah konflik ini akan mereda atau semakin memanas. Beberapa analis, seperti Dan Ives dari Wedbush, menyarankan agar Musk mundur sepenuhnya dari politik dan fokus pada Tesla untuk menstabilkan perusahaan. “Keseimbangan telah hilang. Musk perlu melangkah maju sebagai CEO Tesla pada saat kritis ini,” kata Ives.

Di sisi lain, Trump tampaknya bertekad untuk menunjukkan bahwa ia tidak bergantung pada Musk. Ancaman untuk membatalkan kontrak pemerintah dan rencana penjualan mobil Tesla-nya adalah sinyal kuat bahwa Trump ingin memisahkan dirinya dari Musk, baik secara simbolis maupun praktis. Namun, mengingat pengaruh Musk di sektor teknologi dan luar angkasa, serta dukungan finansialnya yang besar di masa lalu, menyelesaikan konflik ini tanpa konsekuensi besar bagi kedua belah pihak akan menjadi tantangan.

Kesimpulan

Konflik antara Donald Trump dan Elon Musk, yang ditandai dengan rencana Trump untuk menjual mobil Tesla-nya, adalah cerminan dari dinamika kompleks antara politik, bisnis, dan kepentingan pribadi. Mobil Tesla merah yang awalnya melambangkan aliansi strategis kini menjadi simbol keretakan yang berdampak pada pasar, investor, dan persepsi publik. Dengan risiko ekonomi dan politik yang signifikan bagi kedua belah pihak, dunia akan terus memantau apakah kedua tokoh ini dapat menemukan jalan untuk berdamai atau apakah perseteruan mereka akan membawa konsekuensi yang lebih luas bagi AS dan industri teknologi global.

BACA JUGA: Pengertian dan Perbedaan Paham Komunisme Menurut Marxisme: Analisis Mendalam

BACA JUGA: Tim Berners-Lee: Pencetus World Wide Web dan Karya Revolusioner yang Mengubah Dunia

BACA JUGA: Dampak Positif dan Negatif Media Sosial di Era 2025: Peluang dan Tantangan dalam Kehidupan Digital