China dan Kamboja Mulai Gelar Latihan Militer Terbesar: Golden Dragon 2025 dan Implikasi Geopolitik
samsguesthouse.com, 14 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88
Pada 14 Mei 2025, China dan Kamboja memulai Golden Dragon 2025, latihan militer gabungan terbesar dalam sejarah hubungan militer kedua negara. Diadakan di Pangkalan Angkatan Laut Ream dan Pusat Logistik dan Pelatihan Bersama China-Kamboja, latihan ini melibatkan lebih dari 2.000 personel, termasuk 845 tentara China dan 1.331 tentara Kamboja, serta teknologi militer canggih seperti kapal perang, helikopter, drone, dan robot anjing. Latihan ini, yang berlangsung hingga 28 Mei 2025, menandai peningkatan signifikan dalam kerja sama militer antara Beijing dan Phnom Penh, sekaligus memicu perhatian internasional terkait pengaruh China di Asia Tenggara. Artikel ini akan mengulas secara mendalam latar belakang, detail latihan, tujuan strategis, dampak geopolitik, tantangan, dan prospek Golden Dragon 2025, dengan memanfaatkan sumber terpercaya seperti Newsweek, South China Morning Post, dan pernyataan resmi dari kedua negara.
Latar Belakang Latihan Militer Golden Dragon 
Hubungan China-Kamboja
China dan Kamboja telah menjalin hubungan militer yang erat sejak akhir abad ke-20, dengan China menjadi mitra strategis utama Kamboja dalam hal investasi, infrastruktur, dan pertahanan. Menurut laporan dari South China Morning Post, hubungan ini diperkuat oleh dukungan China terhadap pemerintahan Perdana Menteri Hun Sen (dan kini anaknya, Hun Manet), termasuk bantuan militer seperti pelatihan, peralatan, dan pendanaan. Kamboja, sebagai anggota ASEAN, telah menjadi sekutu penting China di kawasan, sering mendukung posisi Beijing dalam isu-isu seperti sengketa Laut China Selatan.
Golden Dragon adalah rangkaian latihan militer tahunan yang dimulai pada 2016, bertujuan untuk memperkuat interoperabilitas militer, kemampuan kontra-terorisme, dan bantuan kemanusiaan serta penanggulangan bencana (HADR). Sebelum 2025, latihan ini biasanya melibatkan ratusan personel, tetapi Golden Dragon 2025 mencatatkan skala terbesar dengan jumlah pasukan, teknologi, dan cakupan operasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Konteks Geopolitik
Latihan Golden Dragon 2025 diadakan di tengah ketegangan geopolitik di Indo-Pasifik. Beberapa hari sebelumnya, Amerika Serikat dan Filipina menyelesaikan latihan militer Balikatan 2025, yang melibatkan ribuan pasukan dan simulasi kontra-invasi di Laut China Selatan. Latihan China-Kamboja ini dilihat sebagai respons strategis Beijing untuk menegaskan pengaruhnya di Asia Tenggara, terutama di tengah kekhawatiran tentang ekspansi militer China, termasuk pengembangan Pangkalan Angkatan Laut Ream yang didanai China.
Pangkalan Ream, yang baru diresmikan pada 5 April 2025, telah menjadi pusat kontroversi karena dugaan penggunaannya oleh Angkatan Laut China, meskipun Kamboja menegaskan bahwa pangkalan ini bersifat multinasional. Latihan ini juga menyoroti ketergantungan Kamboja pada China, yang menyumbang lebih dari 40% investasi asing langsung di negara tersebut, menurut Khmer Times.
Detail Latihan Militer Golden Dragon 2025 
Waktu dan Lokasi
Golden Dragon 2025 berlangsung dari 14 hingga 28 Mei 2025, selama dua minggu, di dua lokasi utama di Kamboja:
-
Pangkalan Angkatan Laut Ream, di Teluk Thailand, yang baru saja diperluas dengan pendanaan China. Pangkalan ini menjadi pusat operasi laut dan mendukung logistik latihan.
-
Pusat Logistik dan Pelatihan Bersama China-Kamboja, di Ream, yang diresmikan pada April 2025 dan digunakan untuk pertama kalinya dalam latihan ini.
Latihan ini mencakup operasi di darat, laut, dan udara, dengan simulasi di wilayah daratan Kamboja dan perairan Teluk Thailand.
Peserta dan Skala
Menurut Khmer Times, latihan ini melibatkan 2.176 personel, dengan rincian:
-
Kamboja: 1.331 tentara dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Kerajaan Kamboja (RCAF).
-
China: 845 personel dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), termasuk pasukan darat, angkatan laut, dan unit teknologi canggih.
Skala ini jauh lebih besar dibandingkan latihan Golden Dragon sebelumnya, yang biasanya melibatkan 300-500 personel per negara. Jumlah pasukan yang besar mencerminkan ambisi kedua negara untuk menunjukkan kemampuan militer gabungan mereka.
Peralatan dan Teknologi 
Golden Dragon 2025 menampilkan teknologi militer canggih, terutama dari China, yang menarik perhatian analis internasional:
-
Kapal Perang: China mengerahkan tiga kapal perang, termasuk kapal pendarat amfibi Changbaishan, yang tiba di Pelabuhan Ream pada 12 Mei 2025. Kapal ini mampu mengangkut pasukan, kendaraan, dan helikopter.
-
Helikopter: Dua helikopter C20 baru, yang memiliki kemampuan serang dan transportasi, digunakan untuk simulasi operasi udara.
-
Drone: Sebanyak 20 drone, termasuk model pengintai dan tempur, dikerahkan untuk latihan kontra-terorisme dan pengawasan.
-
Robot Anjing: Robot anjing bersenjata, teknologi otonom terbaru PLA, digunakan untuk simulasi pencarian dan penyelamatan.
-
Kendaraan Komando C5: Kendaraan ini, dilengkapi sistem komunikasi canggih, mampu mengatasi gangguan teknologi seperti jamming.
-
Sistem Artileri: China menyediakan artileri ringan untuk simulasi pertempuran darat.
Kamboja, meskipun dengan peralatan yang lebih sederhana, menyumbangkan kapal patroli, kendaraan lapis baja ringan, dan unit infanteri.
Komponen Latihan 
Latihan ini terdiri dari beberapa komponen utama, sebagaimana diumumkan oleh Kementerian Pertahanan China dan RCAF:
-
Kontra-Terorisme: Simulasi operasi melawan kelompok teroris, termasuk penyelamatan sandera dan serangan terkoordinasi di darat dan laut.
-
Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana (HADR): Latihan untuk menangani bencana alam, seperti banjir atau gempa bumi, dengan fokus pada evakuasi dan logistik.
-
Operasi Laut: Manuver kapal perang dan simulasi pertahanan maritim di Teluk Thailand, termasuk latihan anti-kapal selam dan pengawasan pantai.
-
Operasi Udara: Penggunaan helikopter dan drone untuk misi pengintai, transportasi, dan serangan presisi.
-
Kegiatan Budaya dan Olahraga: Selain latihan militer, acara seperti pertandingan olahraga dan pertukaran budaya diadakan untuk mempererat hubungan antarpasukan.
Latihan ini dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas, berbagi taktik, dan membangun kepercayaan antara PLA dan militer Kamboja.
Tujuan Strategis 
Golden Dragon 2025 memiliki beberapa tujuan strategis, baik militer maupun geopolitik:
1. Peningkatan Kapabilitas Militer
-
Kamboja: Latihan ini memungkinkan Kamboja untuk mengakses pelatihan dan teknologi canggih dari China, meningkatkan kemampuan angkatan bersenjatanya yang relatif kecil.
-
China: PLA dapat menguji peralatan baru, seperti robot anjing dan drone, dalam lingkungan operasional nyata, sekaligus melatih pasukan untuk misi di luar negeri.
2. Penguatan Aliansi
Latihan ini memperkuat aliansi militer China-Kamboja, menegaskan komitmen Beijing untuk mendukung Phnom Penh dalam menghadapi tekanan dari Barat, terutama terkait isu demokrasi dan hak asasi manusia.
3. Proyeksi Kekuatan
Golden Dragon 2025 adalah bagian dari strategi China untuk memproyeksikan kekuatan di Indo-Pasifik, menandingi latihan militer AS dan sekutunya seperti Balikatan. Pangkalan Ream, yang berlokasi strategis di Teluk Thailand, memperluas jangkauan operasional Angkatan Laut China.
4. Kontra-Terorisme dan HADR
Latihan ini menekankan kesiapan untuk menghadapi ancaman non-tradisional, seperti terorisme dan bencana alam, yang relevan bagi Kamboja, yang sering dilanda banjir dan memiliki kekhawatiran tentang stabilitas regional.
Dampak Geopolitik
Golden Dragon 2025 memiliki implikasi signifikan bagi dinamika regional dan global:
1. Kekhawatiran Regional
Negara-negara tetangga, seperti Vietnam dan Thailand, serta kekuatan Barat seperti AS dan Australia, menyatakan kekhawatiran tentang ekspansi militer China di Kamboja. Pangkalan Ream, yang diduga dapat digunakan oleh PLA, dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan maritim di Laut China Selatan dan Teluk Thailand. Postingan di X juga mencerminkan sentimen ini, dengan beberapa pengguna menyebut latihan ini sebagai “flex militer” China untuk menandingi AS-Filipina.
2. Ketegangan dengan AS
Latihan ini memperdalam ketegangan antara China dan AS, terutama setelah Balikatan 2025. AS telah menyuarakan keprihatinan tentang potensi Pangkalan Ream menjadi pos militer permanen China, yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.
3. Posisi Kamboja di ASEAN
Kamboja, sebagai sekutu China, sering berada di posisi sulit dalam ASEAN, yang berusaha menjaga netralitas dalam persaingan AS-China. Latihan ini dapat memperlebar perpecahan dalam ASEAN, dengan negara seperti Vietnam dan Filipina lebih condong ke AS.
4. Persepsi Publik
Di Kamboja, latihan ini mendapat dukungan dari pemerintah tetapi memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat sipil tentang ketergantungan pada China. Di media sosial, seperti postingan di X, beberapa pengguna global melihat latihan ini sebagai langkah Kamboja untuk memperkuat aliansi dengan Beijing, sementara yang lain mempertanyakan implikasi jangka panjangnya.
Tantangan dan Kontroversi 
Golden Dragon 2025 tidak lepas dari tantangan dan kontroversi:
1. Kontroversi Pangkalan Ream
Pangkalan Ream telah menjadi pusat perhatian karena laporan bahwa China memiliki akses eksklusif ke bagian pangkalan tersebut, meskipun Kamboja membantah klaim ini. Latihan ini, yang menggunakan Ream sebagai pusat operasi, memicu spekulasi tentang niat jangka panjang China.
2. Ketimpangan Teknologi
Ketimpangan antara teknologi militer China (seperti drone dan robot anjing) dan Kamboja (yang lebih sederhana) menimbulkan pertanyaan tentang manfaat latihan bagi Kamboja. Beberapa analis berpendapat bahwa Kamboja lebih berperan sebagai tuan rumah daripada mitra setara.
3. Dampak Lingkungan
Operasi laut dan darat dalam jumlah besar berpotensi merusak lingkungan Teluk Thailand, yang kaya akan biodiversitas. Meskipun belum ada laporan spesifik tentang dampak Golden Dragon 2025, latihan militer skala besar sering dikaitkan dengan polusi dan gangguan ekosistem.
4. Reaksi Internasional
Latihan ini memicu reaksi dari AS, Jepang, dan negara lain, yang meminta Kamboja untuk lebih transparan tentang hubungannya dengan China. Tekanan ini dapat memperumit posisi diplomatik Kamboja di panggung global.
Upaya dan Kebijakan Pendukung 
Kedua negara telah mengambil langkah untuk memastikan keberhasilan latihan:
-
Logistik dan Infrastruktur: China mendanai pembangunan Pusat Logistik dan Pelatihan Bersama di Ream, yang menyediakan fasilitas modern untuk latihan.
-
Pertukaran Budaya: Kegiatan seperti olahraga dan acara budaya diadakan untuk membangun kepercayaan antarpasukan, memperkuat hubungan interpersonal.
-
Publisitas: Kedua negara memanfaatkan media, termasuk CGTN dan Khmer Times, untuk mempromosikan latihan ini sebagai simbol kerja sama yang positif.
Prospek ke Depan
Golden Dragon 2025 memiliki beberapa prospek penting:
-
Peningkatan Kerja Sama Militer: Keberhasilan latihan ini dapat mendorong latihan yang lebih besar di masa depan, mungkin melibatkan lebih banyak negara sekutu China, seperti Laos atau Myanmar.
-
Ekspansi Pangkalan Ream: Penggunaan Ream dalam latihan ini dapat mempercepat pengembangan pangkalan tersebut sebagai pusat strategis China di Asia Tenggara.
-
Pengaruh Regional: China dapat memanfaatkan latihan ini untuk memperluas pengaruhnya di ASEAN, menawarkan pelatihan atau bantuan militer kepada negara lain.
-
Tantangan Diplomatik: Kamboja harus menyeimbangkan hubungannya dengan China dan tekanan dari Barat untuk menjaga netralitas dalam geopolitik global.
Namun, prospek ini bergantung pada kemampuan kedua negara untuk mengatasi kekhawatiran internasional dan memastikan bahwa latihan ini tidak memperburuk ketegangan regional.
Kesimpulan
Golden Dragon 2025, yang dimulai pada 14 Mei 2025, adalah latihan militer terbesar antara China dan Kamboja, melibatkan 2.176 personel, kapal perang, helikopter, drone, dan teknologi canggih seperti robot anjing. Diadakan di Pangkalan Angkatan Laut Ream dan Pusat Logistik dan Pelatihan Bersama, latihan ini fokus pada kontra-terorisme, bantuan kemanusiaan, dan operasi laut serta udara. Dengan tujuan untuk meningkatkan kapabilitas militer, memperkuat aliansi, dan memproyeksikan kekuatan, Golden Dragon 2025 mencerminkan hubungan strategis yang semakin erat antara Beijing dan Phnom Penh.
Namun, latihan ini juga memicu kekhawatiran tentang ekspansi militer China, terutama terkait Pangkalan Ream, dan memperdalam ketegangan geopolitik di Indo-Pasifik. Bagi Kamboja, latihan ini adalah peluang untuk meningkatkan kemampuan militernya, tetapi juga menempatkan negara ini di tengah persaingan AS-China. Dengan skala dan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, Golden Dragon 2025 tidak hanya menandai tonggak dalam kerja sama militer China-Kamboja, tetapi juga menggarisbawahi dinamika kekuatan yang kompleks di Asia Tenggara pada tahun 2025.
Sumber: Informasi dalam artikel ini bersumber dari Newsweek (2025), South China Morning Post (2025), Khmer Times (2025), China Daily (2025), Reuters (2025), situs resmi Kementerian Pertahanan China (eng.mod.gov.cn), dan postingan di X dari akun seperti @ChinaDaily dan @MarioNawfal hingga Mei 2025. Untuk detail lebih lanjut, kunjungi situs resmi Kementerian Pertahanan China (eng.mod.gov.cn) atau sumber berita regional seperti Khmer Times (www.khmertimeskh.com).
BACA JUGA: Filsafat Kehidupan dan Pandangan Hidup Manusia: Belajar dari Perspektif Psikologi
BACA JUGA: Masalah Sosial di Indonesia pada Tahun 1880-an: Perspektif Sejarah dan Sosiologi
BACA JUGA: Perkembangan Teknologi Militer Turki: Dari Modernisasi hingga Kemandirian Strategis
