Blog

300 Orang Ditangkap Usai Bentrok dengan Polisi Saat Perayaan Kemenangan PSG di Liga Champions

samsguesthouse.com, 01 MEI 2025

Penulis: Riyan Wicaksono

Editor: Muhammad Kadafi

Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88 300 Orang Ditangkap Usai Bentrok dengan Polisi Saat Perayaan Juara PSG di Liga  Champions

Pada 31 Mei 2025, euforia kemenangan Paris Saint-Germain (PSG) atas Inter Milan dengan skor telak 5-0 di final Liga Champions di Allianz Arena, Munich, Jerman, berubah menjadi kekacauan di jalan-jalan Paris. Perayaan yang awalnya penuh sukacita di Champs-Élysées dan sekitar Parc des Princes berujung pada kerusuhan, dengan hampir 300 orang ditangkap setelah bentrokan dengan polisi. Insiden ini menyoroti tantangan menjaga keamanan selama perayaan olahraga berskala besar dan mencerminkan pola kerusuhan berulang yang terkait dengan pendukung PSG. Artikel ini mengulas secara mendalam peristiwa tersebut, mencakup latar belakang, kronologi, respons otoritas, dampak, dan konteks yang lebih luas, berdasarkan sumber terpercaya hingga Juni 2025.

Latar Belakang Kemenangan PSG dan Perayaan Paris Membara! 81 Orang Ditangkap Buntut Nobar Final Liga Champions PSG vs  Inter - Espos.id | Espos Indonesia dari Solo untuk Indonesia

Paris Saint-Germain meraih gelar Liga Champions pertama mereka pada 1 Juni 2025 dini hari, mengakhiri penantian panjang untuk trofi “si kuping besar.” Bermain di Allianz Arena, PSG di bawah asuhan pelatih Luis Enrique mendominasi Inter Milan dengan gol dari Achraf Hakimi, Desire Doue, Khvicha Kvaratskhelia, dan Senny Mayulu. Kemenangan ini menjadikan PSG tim kedua dari Prancis yang menjuarai Liga Champions setelah Olympique Marseille pada 1993, memicu kegembiraan besar di kalangan pendukung di Paris.

Untuk mengantisipasi perayaan, otoritas Paris menyiapkan program keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menara Eiffel dihias dengan warna merah dan biru PSG, dan layar besar dipasang di zona penggemar di Champs-Élysées, Parc des Princes, dan pinggiran kota untuk nonton bersama. Namun, sejarah kerusuhan pendukung PSG—seperti pada semifinal Liga Champions 2025 melawan Arsenal yang menyebabkan 43 penangkapan—mendorong kepolisian mengerahkan 5.400 personel di ibu kota Prancis, meskipun pertandingan digelar di Munich.

Kronologi Kerusuhan  Kerusuhan Usai Final Liga Champions, 83 Suporter PSG Ditangkap

Kerusuhan dimulai pada malam 31 Mei 2025, saat ribuan pendukung berkumpul di Champs-Élysées dan dekat Parc des Princes untuk menonton final Liga Champions. Suasana awalnya meriah, dengan sorak-sorai menyambut gol-gol PSG. Namun, menjelang akhir pertandingan, ketegangan meningkat di beberapa lokasi:

  1. Champs-Élysées: Zona penggemar utama di kawasan ini menjadi pusat kerusuhan. Media sosial menunjukkan kerumunan melempari polisi dengan proyektil, termasuk botol dan kembang api. Polisi berusaha membubarkan massa dengan gas air mata, tetapi beberapa pendukung berbalik menyerang, merusak toko, dan membakar kendaraan.

  2. Parc des Princes: Di sekitar stadion, bentrokan terjadi antara polisi dan kelompok pendukung yang melemparkan bom molotov. Rekaman video menunjukkan polisi menyeret seorang pria bertopeng balaclava, sementara kerumunan melempari petugas dengan benda-benda keras.

  3. Insiden Kekerasan Lain: Laporan dari media lokal menyebutkan kebakaran di beberapa bagian kota, dengan kendaraan dibakar dan properti dirusak. Satu video viral menangkap polisi diserang di dekat Arc de Triomphe, memperparah situasi.

Menurut laporan, polisi menangkap hampir 300 orang, dengan angka bervariasi di berbagai sumber. Beberapa sumber awal melaporkan 131 penangkapan, sementara laporan lain, termasuk dari X, menyebutkan angka mendekati 300. Penangkapan dilakukan karena pelanggaran seperti vandalisme, penyerangan terhadap polisi, dan pelanggaran protokol keamanan.

Respons Otoritas PARIS 'MEMBARA'! Euforia PSG Lolos Final UCL Berujung RICUH! Mobil 'TABRAK'  3 SUPORTER! - PR Sulteng

Kepolisian Paris, di bawah komando Laurent Nunez, merespons dengan cepat. Nunez telah memperingatkan sebelumnya bahwa 5.400 petugas akan dikerahkan untuk mencegah kericuhan, dengan fokus pada Champs-Élysées dan zona penggemar lainnya. Langkah-langkah keamanan meliputi:

  • Penutupan lalu lintas di Champs-Élysées mulai pukul 18.00 waktu setempat pada 31 Mei 2025.

  • Penggunaan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.

  • Penahanan massal terhadap pelaku kerusuhan, dengan 81 penangkapan dilaporkan pada tahap awal.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Bruno Retailleau, mengutuk pelaku kerusuhan sebagai “orang-orang barbar” yang memanfaatkan perayaan untuk melakukan kejahatan. Ia menyatakan dukungan kepada polisi dan menyerukan tindakan keras terhadap pelaku. Nunez juga menegaskan bahwa polisi berupaya menghentikan pola vandalisme dan penjarahan secara sistematis, merujuk pada insiden serupa selama perayaan semifinal melawan Arsenal.

Dampak Kerusuhan

Kerusuhan ini memiliki sejumlah dampak signifikan:

  1. Korban dan Kerusakan: Meskipun laporan tidak menyebutkan korban jiwa, kerusuhan menyebabkan kerusakan properti, termasuk kendaraan yang dibakar dan toko yang dirusak. Insiden serupa pada Mei 2025 melibatkan tiga korban luka akibat tabrak lari, menunjukkan potensi bahaya dalam kerumunan besar.

  2. Reputasi PSG dan Paris: Kemenangan bersejarah PSG dirusak oleh kekacauan, memicu kritik terhadap perilaku pendukung. Media lokal menyoroti kontrast antara kegembiraan penggemar sejati dan aksi “preman” yang merusak perayaan.

  3. Beban Kepolisian: Pengerahan 5.400 petugas menunjukkan biaya keamanan yang besar, dengan polisi menghadapi risiko fisik dan tekanan tinggi selama insiden.

  4. Sentimen Publik: Postingan di X mencerminkan sentimen campur aduk, dengan beberapa pengguna mengutuk kerusuhan sebagai noda pada kemenangan PSG, sementara lainnya menyoroti kegagalan pengendalian massa.

Konteks Sejarah Kerusuhan Pendukung PSG

Kerusuhan ini bukanlah insiden pertama yang melibatkan pendukung PSG:

  • Agustus 2020: Setelah kekalahan PSG dari Bayern Munich di final Liga Champions 2019–2020, pendukung bentrok dengan polisi di Champs-Élysées karena melanggar protokol kesehatan dan melakukan vandalisme.

  • Mei 2025: Perayaan kemenangan semifinal PSG atas Arsenal menyebabkan 43 penangkapan, dengan insiden tabrak lari yang melukai tiga orang, satu di antaranya kritis.

  • Agustus 2018: Kerusuhan serupa terjadi setelah kemenangan PSG atas RB Leipzig di semifinal Liga Champions, menunjukkan pola berulang.

Faktor yang berkontribusi pada kerusuhan meliputi:

  • Euforia Berlebihan: Kemenangan besar seperti Liga Champions memicu emosi tinggi, terutama di kalangan pendukung muda.

  • Kelompok Vandal: Beberapa pelaku diidentifikasi sebagai oportunis yang memanfaatkan kerumunan untuk melakukan kekerasan, bukan penggemar sejati.

  • Sejarah Rivalitas: Perseteruan PSG dengan klub seperti Olympique Marseille telah menciptakan budaya pendukung yang agresif di beberapa kalangan.

Konteks Lebih Luas: Kerusuhan Olahraga di Eropa

Kerusuhan olahraga bukanlah fenomena baru di Eropa. Contoh lain termasuk:

  • Belgia 2022: 20 orang ditangkap setelah kemenangan Maroko atas Belgia di Piala Dunia, dengan perusuh membakar kendaraan dan menyerang polisi.

  • Prancis 2018: 500 orang ditangkap di Paris setelah kemenangan Prancis di Piala Dunia, dengan insiden penjarahan dan kematian akibat kecelakaan selama perayaan.

  • Inggris 2025: Insiden tabrak lari di Liverpool setelah kemenangan Premier League menunjukkan risiko kerumunan besar.

Faktor seperti alkohol, rivalitas antarpendukung, dan minimnya pengendalian massa sering memicu kekacauan, menyoroti perlunya strategi keamanan yang lebih efektif.

Hubungan dengan Guinea-Bissau

Meskipun tidak ada hubungan langsung antara kerusuhan ini dan Guinea-Bissau, beberapa pemain PSG memiliki akar Afrika Barat, seperti Achraf Hakimi (Maroko), yang mungkin menarik perhatian penggemar sepak bola di wilayah tersebut. Guinea-Bissau, dengan minat sepak bola yang berkembang, mungkin mengikuti kemenangan PSG melalui siaran televisi, meskipun rendahnya penetrasi internet (3,3% pada 2020) membatasi akses ke berita langsung. Insiden ini juga dapat menjadi pelajaran bagi negara seperti Guinea-Bissau dalam mengelola keamanan selama acara olahraga besar, terutama dengan meningkatnya popularitas sepak bola di Afrika.

Rekomendasi untuk Pencegahan Kerusuhan

  1. Penguatan Keamanan: Tingkatkan pelatihan polisi untuk pengendalian massa dan gunakan teknologi seperti CCTV untuk memantau zona penggemar.

  2. Zona Penggemar Terkontrol: Batasi jumlah orang di zona seperti Champs-Élysées dan perketat pemeriksaan keamanan untuk mencegah masuknya proyektil atau senjata.

  3. Edukasi Pendukung: Kolaborasi antara PSG dan otoritas untuk mengkampanyekan perilaku bertanggung jawab di kalangan penggemar.

  4. Koordinasi Antarinstansi: Pastikan komunikasi yang lebih baik antara polisi, pemerintah daerah, dan penyelenggara acara untuk merespons insiden dengan cepat.

  5. Pemanfaatan Teknologi: Gunakan aplikasi atau media sosial untuk memberikan peringatan real-time kepada pendukung tentang zona aman dan aturan perilaku.

Kesimpulan

Kerusuhan yang mengakibatkan hampir 300 penangkapan setelah kemenangan PSG di Liga Champions pada 31 Mei 2025 mencerminkan tantangan menjaga keamanan selama perayaan olahraga berskala besar. Meskipun kemenangan 5-0 atas Inter Milan menjadi momen bersejarah bagi PSG dan Prancis, kekacauan di Champs-Élysées dan Parc des Princes menodai euforia tersebut. Dengan 5.400 polisi dikerahkan, otoritas berusaha keras mengendalikan situasi, tetapi pola kerusuhan berulang menunjukkan perlunya strategi pencegahan yang lebih efektif. Insiden ini juga memberikan pelajaran bagi negara seperti Guinea-Bissau tentang pentingnya perencanaan keamanan untuk acara olahraga. Dengan pendekatan yang lebih terkoordinasi dan edukasi penggemar, perayaan kemenangan seperti ini dapat berlangsung aman, memastikan kegembiraan sepak bola menyatukan, bukan memecah belah, masyarakat.

BACA JUGA: Detail Planet Mars: Karakteristik, Struktur, dan Misteri Terkecil di Tata Surya

BACA JUGA: Cerita Rakyat Tiongkok: Warisan Budaya, Makna, dan Pengaruhnya

BACA JUGA: Perbedaan Perkembangan Media Sosial Tahun 2020-2025: Analisis Lengkap Secara Mendalam