Blog

Perang Israel-Teheran: Eskalasi Konflik dan Seruan Netanyahu kepada Rakyat Iran untuk Menggulingkan Rezim

samsguesthouse.com, 15 MEI 2025

Penulis: Riyan Wicaksono

Editor: Muhammad Kadafi

Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

 

 

Konflik antara Israel dan Iran telah menjadi salah satu dinamika geopolitik paling kompleks dan berbahaya di Timur Tengah selama beberapa dekade. Pada tahun 2025, ketegangan ini mencapai puncak baru dengan serangkaian serangan militer langsung antara kedua negara, yang dikenal sebagai “Perang Israel-Teheran.” Salah satu aspek yang menonjol dalam eskalasi ini adalah seruan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kepada rakyat Iran untuk menggulingkan rezim Republik Islam Iran yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Artikel ini akan menguraikan kronologi konflik terbaru, latar belakang permusuhan, dampak serangan militer, dan implikasi dari seruan Netanyahu, serta respons dari berbagai pihak.

Latar Belakang Konflik Israel-Iran

    Netanyahu Incar Iran setelah Taklukkan Hamas, Hizbullah, dan Suriah      

Permusuhan antara Israel dan Iran dimulai secara signifikan setelah Revolusi Islam 1979 di Iran, yang menggulingkan monarki pro-Barat Shah Mohammad Reza Pahlavi dan mendirikan Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Rezim baru ini memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, menolak keberadaan negara Yahudi tersebut, dan mendukung kelompok-kelompok militan seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina sebagai bagian dari strategi “poros perlawanan” melawan Israel dan sekutunya, terutama Amerika Serikat (AS).

Israel, di sisi lain, memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama karena program nuklir Iran yang dianggap memiliki potensi untuk menghasilkan senjata nuklir, meskipun Teheran bersikeras bahwa program tersebut hanya untuk tujuan sipil. Selama bertahun-tahun, kedua negara terlibat dalam apa yang disebut sebagai “perang bayangan,” yang mencakup serangan siber, pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, dan serangan udara Israel terhadap target-target yang terkait dengan Iran di Suriah dan Lebanon.

Pada tahun 2024 dan 2025, konflik ini meningkat menjadi konfrontasi militer langsung. Peristiwa-peristiwa seperti pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024, kematian pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah di Beirut, dan runtuhnya rezim Bashar Al-Assad di Suriah—sekutu utama Iran—memperburuk hubungan kedua negara.

Kronologi Eskalasi Perang Israel-Teheran (2024-2025)

    Netanyahu Ungkap 3 Syarat Kesepakatan dengan Hizbullah di Lebanon      

1. Serangan Iran ke Israel (1 Oktober 2024)

Konflik langsung terbaru dimulai pada 1 Oktober 2024, ketika Iran meluncurkan sekitar 200 rudal balistik ke Israel sebagai pembalasan atas pembunuhan Haniyeh dan Nasrallah. Serangan ini, yang disebut sebagai serangan langsung kedua Iran terhadap Israel dalam setahun, menargetkan fasilitas militer dan keamanan Israel. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim berhasil mencegat sebagian besar rudal, dengan kerusakan minimal. Namun, serangan ini meningkatkan ketegangan regional dan memicu respons keras dari Israel.

2. Serangan Balasan Israel ke Iran (25 Oktober 2024)

Pada 25 Oktober 2024, Israel melancarkan serangan udara “tepat sasaran” terhadap target militer di Iran, termasuk pangkalan militer di Teheran dan fasilitas produksi rudal. IDF menyatakan bahwa serangan ini merupakan respons terhadap serangan rudal Iran pada 1 Oktober. Media Iran melaporkan ledakan di Teheran dan Karaj, tetapi pemerintah Iran mengklaim kerusakan “terbatas.” Serangan ini mendapat dukungan dari AS, yang menyebutnya sebagai “latihan membela diri.”

3. Operasi “Rising Lion” Israel (13 Juni 2025)

    Mereka yang Tertawa dan Menangis Karena Konflik Iran vs Israel      

Eskalasi mencapai puncak pada 13 Juni 2025, ketika Israel meluncurkan Operasi “Rising Lion,” sebuah operasi militer besar-besaran yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran. Menurut laporan, serangan ini menghancurkan fasilitas pengayaan uranium di Natanz, markas Garda Revolusi di Teheran, dan menewaskan beberapa pejabat tinggi Iran, termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri, Komandan Garda Revolusi Hossein Salami, dan dua ilmuwan nuklir senior, Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi.

Netanyahu menggambarkan operasi ini sebagai upaya untuk “menggagalkan ancaman nuklir dan rudal Iran terhadap kelangsungan hidup Israel.” Namun, serangan ini memicu respons balasan dari Iran, yang meluncurkan operasi “True Promise 3,” menembakkan puluhan rudal balistik ke Tel Aviv dan Ramat Gan pada 13 Juni 2025. Meskipun sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, berhasil mencegat sebagian besar rudal, beberapa bangunan di Israel dilaporkan rusak.

4. Serangan Lanjutan dan Ancaman Iran (14-15 Juni 2025)

Pada 14 Juni 2025, Iran mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Israel, dengan seorang pejabat keamanan senior menyatakan bahwa Teheran akan “memperpanjang konfrontasi” hingga menyebabkan “kehancuran Israel.” Iran juga meluncurkan sekitar 100 drone dan rudal tambahan ke Israel, meskipun sebagian besar berhasil dicegat. Di sisi lain, Netanyahu berjanji akan terus menyerang “setiap sasaran di Iran” jika diperlukan, meningkatkan ketegangan lebih lanjut.

Seruan Netanyahu kepada Rakyat Iran

Di tengah eskalasi militer, Netanyahu berulang kali menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran, menyerukan mereka untuk menggulingkan rezim Republik Islam. Pada 1 Oktober 2024, ia mengecam kepemimpinan Iran karena memprioritaskan konflik regional daripada kesejahteraan rakyatnya, menyatakan, “Bayangkan jika semua uang yang dihamburkan untuk senjata nuklir dan perang diinvestasikan dalam pendidikan, perawatan kesehatan, dan infrastruktur.” Ia memprediksi bahwa Iran pasca-rezim akan menikmati kemakmuran melalui investasi global dan pariwisata.

Pada 14 Juni 2025, setelah Operasi “Rising Lion,” Netanyahu kembali menyerukan perlawanan rakyat Iran, menyebut rezim Teheran “berada pada posisi terlemah dalam sejarah” dan mendesak, “Saatnya suara kalian menggema untuk menggulingkan kediktatoran Islam yang menindas.” Ia juga menyoroti runtuhnya rezim Assad di Suriah sebagai bukti kerapuhan sekutu Iran, dengan menyatakan bahwa Iran telah menghabiskan miliaran dolar untuk mendukung Assad, hanya untuk melihat rezimnya “runtuh menjadi debu.”

Konteks Internal Iran

Seruan Netanyahu datang di tengah meningkatnya ketidakpuasan rakyat Iran terhadap pemerintah mereka. Krisis ekonomi yang parah, dengan inflasi mencapai 33% pada 2024 dan sepertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, telah memicu kritik terhadap pengeluaran besar pemerintah untuk mendukung kelompok seperti Hizbullah dan Hamas. Demonstrasi besar-besaran pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini menunjukkan kerentanan rezim terhadap protes internal. Banyak warga Iran, terutama yang kritis terhadap pemerintah, menyatakan bahwa mereka tidak ingin berperang dengan Israel, khawatir konflik akan memperburuk represi domestik.

Namun, seruan Netanyahu juga memicu reaksi beragam. Beberapa warga Iran yang menentang rezim menyambut baik pesannya, tetapi yang lain, termasuk mereka yang patriotik, memandangnya sebagai campur tangan asing yang dapat memperkuat dukungan terhadap rezim. Analis seperti Arash Azizi dari New York University mencatat bahwa “rakyat Iran tidak memiliki permusuhan besar terhadap Israel,” tetapi tekanan eksternal dapat mempersatukan rakyat di sekitar rezim untuk alasan nasionalisme.

Respons Internasional

1. Amerika Serikat

AS, sekutu utama Israel, mendukung serangan Israel ke Iran sebagai “pembelaan diri,” tetapi mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah perang regional. Presiden AS Donald Trump, yang kembali berkuasa pada 2025, menerapkan kembali kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran, termasuk sanksi yang melumpuhkan ekonomi Teheran. Namun, AS menolak untuk terlibat langsung dalam perang, dengan pejabat senior menyatakan bahwa serangan Israel pada Oktober 2024 dirancang untuk meminimalkan risiko eskalasi.

2. PBB dan IAEA

Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat setelah serangan Iran pada Oktober 2024, dengan Sekjen PBB António Guterres menyerukan gencatan senjata. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Juni 2025 menyatakan bahwa Iran telah melanggar kewajiban nonproliferasi nuklir untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, memberikan pembenaran bagi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.

3. Negara-Negara Timur Tengah

Negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang memiliki hubungan tegang dengan Iran, secara diam-diam mendukung serangan Israel, tetapi secara terbuka menyerukan de-eskalasi. Sementara itu, kelompok-kelompok pro-Iran seperti Houthi di Yaman dan milisi Syiah di Irak meningkatkan serangan terhadap Israel sebagai solidaritas dengan Teheran.

4. Iran

Pemerintah Iran mengecam serangan Israel sebagai “deklarasi perang” dan berjanji akan membalas dengan lebih keras. Pejabat senior Iran menyatakan bahwa mereka “sepenuhnya siap untuk segala skenario” dan mengancam akan menargetkan pangkalan militer AS, Inggris, dan Prancis jika sekutu Israel ikut campur. Media pemerintah Iran berusaha menunjukkan bahwa situasi tetap normal, tetapi laporan independen mengindikasikan kepanikan di kalangan warga sipil karena kurangnya tempat perlindungan.

Dampak dan Implikasi

1. Dampak Militer

Perang Israel-Teheran telah menyebabkan kerugian signifikan bagi kedua belah pihak. Iran kehilangan beberapa pejabat militer dan ilmuwan nuklir kunci, serta mengalami kerusakan pada fasilitas nuklir dan militer. Israel, meskipun memiliki sistem pertahanan udara yang canggih, melaporkan kerusakan pada beberapa bangunan akibat serangan rudal Iran. Konflik ini juga melemahkan proksi Iran seperti Hizbullah, yang kehilangan kepemimpinan dan kemampuan tempur setelah serangan Israel di Lebanon.

2. Dampak Ekonomi

Konflik ini mengganggu pasar minyak global, dengan harga minyak melonjak karena ketidakpastian di kawasan penghasil minyak utama. Di Iran, nilai tukar rial anjlok, memperburuk krisis ekonomi. Di Israel, serangan rudal menyebabkan beberapa maskapai penerbangan internasional membatalkan penerbangan ke Tel Aviv, memengaruhi sektor pariwisata dan ekonomi.

3. Dampak Politik

Di Israel, serangan terhadap Iran meningkatkan dukungan domestik untuk Netanyahu, yang menghadapi tekanan politik akibat tuduhan korupsi dan kegagalan menangani perang di Gaza. Namun, seruannya kepada rakyat Iran untuk menggulingkan rezim memicu perdebatan tentang efektivitas dan etika campur tangan dalam urusan internal negara lain. Di Iran, rezim menggunakan serangan Israel untuk memobilisasi dukungan nasionalis, tetapi ketidakpuasan rakyat tetap tinggi karena krisis ekonomi dan represi politik.

4. Risiko Perang Regional

Eskalasi ini meningkatkan risiko perang regional yang melibatkan AS, negara-negara Arab, dan proksi Iran. Pakar hubungan internasional memperingatkan bahwa perang besar-besaran akan memiliki biaya ekonomi, sosial, dan politik yang sangat besar, tidak hanya bagi Timur Tengah tetapi juga untuk dunia.

Analisis: Apakah Seruan Netanyahu Efektif?

Seruan Netanyahu kepada rakyat Iran untuk menggulingkan rezim memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Iran terhadap pemerintah mereka, yang telah didokumentasikan dalam protes besar-besaran dan laporan media independen. Di sisi lain, seruan ini dapat dianggap sebagai propaganda yang justru memperkuat rezim Iran dengan memicu sentimen anti-asing. Analis seperti Nazila Golestan, tokoh oposisi Iran di Paris, berpendapat bahwa perang dengan Israel dapat meningkatkan represi terhadap oposisi di Iran, bukan melemahkan rezim.

Selain itu, sejarah menunjukkan bahwa campur tangan asing dalam urusan internal Iran, seperti kudeta 1953 yang didukung AS dan Inggris, sering kali memicu reaksi balik nasionalis. Oleh karena itu, meskipun seruan Netanyahu mungkin resonan dengan beberapa warga Iran yang anti-rezim, dampaknya kemungkinan terbatas tanpa dukungan internal yang terorganisir dan kondisi politik yang memungkinkan revolusi.

Kesimpulan

Perang Israel-Teheran pada tahun 2024-2025 menandai babak baru dalam permusuhan panjang antara kedua negara, dengan serangan militer langsung yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seruan Netanyahu kepada rakyat Iran untuk menggulingkan rezim Republik Islam mencerminkan strategi Israel untuk melemahkan Iran tidak hanya secara militer tetapi juga secara politik. Namun, efektivitas seruan ini masih dipertanyakan, mengingat kompleksitas dinamika internal Iran dan risiko eskalasi regional.

Konflik ini memiliki implikasi luas, mulai dari gangguan ekonomi global hingga ancaman perang regional yang lebih besar. Untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, diperlukan diplomasi internasional yang kuat, termasuk mediasi oleh PBB dan aktor netral lainnya. Bagi Indonesia dan negara-negara lain di luar Timur Tengah, penting untuk mempersiapkan strategi mitigasi ekonomi dan menyerukan de-eskalasi demi menjaga stabilitas global.

Sumber

BACA JUGA: Panduan Lengkap Travelling ke Republik Ceko untuk Wisatawan Indonesia

BACA JUGA : Lingkungan, Sumber Daya Alam, dan Penduduk Republik Ceko: Analisis Mendalam

BACA JUGA : Seni dan Tradisi Negara Republik Ceko: Warisan Budaya yang Kaya dan Beragam