Blog

Sirene Meraung-raung: Rudal Houthi Yaman Masuk Target Wilayah Israel

samsguesthouse.com, 26 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Rudal Ditembakkan dari Yaman, Sirene Berbunyi di Tel Aviv Israel

Pada 20 Maret 2025, sirene peringatan serangan udara meraung di beberapa wilayah Israel, menandakan ancaman serius dari rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi dari Yaman. Militer Israel mengumumkan bahwa rudal hipersonik tersebut berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah udara Israel, mencegah kerusakan atau korban jiwa. Insiden ini merupakan bagian dari eskalasi serangan Houthi terhadap Israel, yang telah meningkat sejak November 2023, di tengah konflik regional yang melibatkan Israel-Palestina dan ketegangan dengan Iran, pendukung utama Houthi. Artikel ini menyajikan analisis mendalam tentang peristiwa tersebut, termasuk konteks sejarah serangan Houthi, teknologi rudal yang digunakan, respons Israel dan sekutunya, dampak geopolitik, serta sentimen publik dan media. Dengan mengandalkan sumber-sumber terpercaya, artikel ini bertujuan memberikan gambaran lengkap dan objektif tentang dinamika konflik ini hingga Mei 2025.

Konteks Peristiwa: 20 Maret 2025 Rudal Kelima dalam Sepekan Houthi, Ribuan Warga Tel Aviv Rebutan Shelter,  Israel Ngadu ke PBB - TribunNews.com

Kronologi Insiden

Pada Kamis, 20 Maret 2025, sekitar pukul 08:00 waktu lokal Israel (13:00 WIB), sirene peringatan serangan udara diaktifkan di wilayah Israel tengah, termasuk sekitar Tel Aviv dan Yerusalem. Militer Israel, melalui Pasukan Pertahanan Israel (IDF), melaporkan bahwa sebuah rudal balistik hipersonik yang ditembakkan dari Yaman telah terdeteksi mendekati wilayah udara Israel. Rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, kemungkinan besar oleh sistem Arrow, yang dirancang untuk menangani ancaman balistik jarak jauh.

Kelompok Houthi, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, mengklaim tanggung jawab atas serangan tersebut melalui juru bicara mereka, Yahya Saree. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh media Houthi, Al-Masirah, mereka menyatakan bahwa rudal tersebut menargetkan Bandara Internasional Ben Gurion di dekat Tel Aviv, sebagai bagian dari “operasi militer untuk mendukung rakyat Palestina.” Houthi menyebut rudal itu sebagai peluru kendali balistik hipersonik, yang diklaim mampu menembus sistem pertahanan udara Israel seperti Iron Dome dan Arrow.

IDF mengonfirmasi bahwa tidak ada korban jiwa atau kerusakan akibat insiden ini, dan penerbangan di Bandara Ben Gurion tetap beroperasi normal setelah pemeriksaan keamanan. Namun, militer Israel sedang menyelidiki laporan tentang kemungkinan peluncuran rudal tambahan, menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap ancaman lanjutan.

Latar Belakang Serangan

Insiden ini bukanlah serangan Houthi pertama terhadap Israel. Sejak November 2023, Houthi telah melancarkan serangan rudal dan drone secara berkala terhadap target Israel, baik di darat maupun di jalur pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden, sebagai respons terhadap operasi militer Israel di Gaza. Serangan ini awalnya dimulai setelah eskalasi konflik Israel-Hamas pada Oktober 2023, yang menyebabkan ribuan korban di Gaza. Houthi, yang didukung oleh Iran, memposisikan diri sebagai bagian dari “Poros Perlawanan” bersama Hizbullah di Lebanon dan milisi pro-Iran di Irak, yang menentang Israel dan sekutunya.

Selama gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas pada pertengahan Januari 2025, Houthi sempat menghentikan serangannya. Namun, serangan udara AS terhadap Yaman pada 15 Maret 2025, yang menewaskan beberapa anggota Houthi, memicu eskalasi baru. Yahya Saree mengancam akan memperluas target serangan, termasuk infrastruktur strategis Israel seperti bandara dan pelabuhan. Insiden 20 Maret 2025 menunjukkan bahwa Houthi tetap memiliki kapasitas dan tekad untuk menyerang Israel meskipun menghadapi tekanan militer dari AS dan sekutunya.

Teknologi Rudal Houthi  Kelompok Houthi Yaman pamerkan rudal "jarak jauh buatan sendiri" - ANTARA  News

Rudal Hipersonik: Klaim dan Realitas

Houthi mengklaim bahwa rudal yang digunakan dalam serangan 20 Maret 2025 adalah peluru kendali balistik hipersonik, yang memiliki kecepatan melebihi Mach 5 (lima kali kecepatan suara) dan kemampuan manuver untuk menghindari sistem pertahanan udara. Rudal hipersonik dianggap sebagai ancaman signifikan karena kecepatan dan lintasannya yang sulit diprediksi, menantang sistem seperti Iron Dome (untuk rudal jarak pendek) dan Arrow (untuk rudal balistik jarak jauh).

Namun, para analis militer skeptis terhadap klaim Houthi tentang rudal hipersonik. Menurut laporan dari The Jerusalem Post (Maret 2025), rudal yang digunakan kemungkinan adalah varian dari Burkan-3 atau rudal balistik lain yang dimodifikasi dengan teknologi Iran. Iran, sebagai pendukung utama Houthi, telah mengembangkan rudal seperti Fattah-1, yang diklaim sebagai hipersonik, tetapi belum ada bukti independen bahwa teknologi ini telah sepenuhnya ditransfer ke Houthi. Rudal Houthi memiliki jangkauan hingga 1.800–2.000 km, cukup untuk mencapai Israel dari Yaman, tetapi akurasi dan efektivitasnya sering dipertanyakan.

Sumber Teknologi

Houthi telah meningkatkan arsenal mereka melalui dukungan Iran, yang menyediakan komponen rudal, pelatihan, dan teknologi drone. Beberapa teknologi militer Houthi juga dikaitkan dengan China dan Korea Utara, meskipun hubungan ini kurang terdokumentasi. Pada 2019, Houthi mulai menunjukkan kemampuan rudal jarak jauh, dan sejak 2023, mereka telah berhasil meluncurkan serangan yang menembus pertahanan udara Israel, seperti serangan drone di Tel Aviv pada Juli 2024 yang menewaskan satu warga sipil.

Respons Israel dan Sekutunya Sirene Meraung-raung, Rudal Houthi Yaman Masuk Wilayah Israel - GLNews.id

Sistem Pertahanan Udara Israel

Israel memiliki salah satu sistem pertahanan udara paling canggih di dunia, yang terdiri dari:

  • Iron Dome: Untuk mencegat roket dan rudal jarak pendek (4–70 km).

  • David’s Sling: Untuk rudal jarak menengah (40–300 km).

  • Arrow Missile Defense System: Untuk rudal balistik jarak jauh, seperti yang digunakan untuk mencegat rudal Houthi pada 20 Maret 2025.

Keberhasilan IDF dalam mencegat rudal Houthi menegaskan efektivitas sistem Arrow, yang dikembangkan bersama AS. Namun, serangan berulang dari Houthi menimbulkan kekhawatiran tentang potensi kelelahan sistem pertahanan jika serangan meningkat dalam frekuensi atau jumlah.

Tindakan Militer dan Diplomatik

IDF menyatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan opsi pembalasan, termasuk serangan udara terhadap fasilitas militer Houthi di Yaman. Namun, operasi semacam itu rumit karena jarak geografis (1.800 km) dan risiko eskalasi dengan Iran. AS, sebagai sekutu utama Israel, telah meningkatkan kehadiran militernya di Laut Merah melalui Operasi Prosperity Guardian, sebuah koalisi internasional untuk melindungi jalur pelayaran dari serangan Houthi.

Secara diplomatik, Israel menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk serangan Houthi dan memperketat sanksi terhadap Iran. Namun, upaya ini menghadapi hambatan karena veto dari Rusia dan China, yang menentang sanksi tambahan terhadap Iran.

Dampak Geopolitik

Eskalasi Regional

Serangan Houthi terhadap Israel memperburuk ketegangan di Timur Tengah, terutama di tengah konflik Israel-Palestina dan perang proksi dengan Iran. Houthi menggunakan serangan ini untuk memperkuat legitimasi mereka di Yaman dan di kalangan kelompok anti-Israel. Namun, serangan tersebut juga memicu serangan balasan dari AS dan Inggris, yang telah melancarkan lebih dari 400 serangan udara terhadap target Houthi sejak Desember 2023, menewaskan ratusan anggota Houthi dan warga sipil.

Dampak pada Jalur Pelayaran

Selain menyerang Israel, Houthi telah menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel, AS, dan Inggris di Laut Merah dan Teluk Aden. Pada Agustus 2024, sebuah rudal Houthi menghantam kapal tanker berbendera Yunani yang membawa 1 juta barel minyak mentah, menyebabkan kerusakan lingkungan di Teluk Aden. Serangan ini telah mengganggu 12% perdagangan maritim global melalui Terusan Suez, memaksa kapal-kapal untuk mengambil rute yang lebih panjang melalui Tanjung Harapan, meningkatkan biaya logistik global.

Sentimen Publik

Sentimen di media sosial, terutama di X, mencerminkan polarisasi yang kuat. Akun-akun pro-Houthi, seperti @SoftWarNews dan @21_mozza, memuji serangan rudal sebagai “perlawanan terhadap Zionis,” mengklaim bahwa Houthi telah “menggemparkan 4 juta orang Israel” dan mengganggu penerbangan di Tel Aviv.‍‍ Sebaliknya, media Israel dan akun pro-Israel menekankan keberhasilan IDF dalam mencegah kerusakan, dengan beberapa menyebut serangan Houthi sebagai “propaganda yang gagal.” Sentimen ini tidak dapat diverifikasi secara independen, tetapi menunjukkan narasi yang saling bertentangan dalam konflik ini.

Insiden Serupa Sebelumnya Rudal dari Yaman Tembus Israel, Sisakan Lubang Besar

15 September 2024

Pada 15 September 2024, Houthi meluncurkan rudal balistik yang jatuh di area terbuka di Israel tengah, sekitar 6 km dari Bandara Ben Gurion. Sirene meraung di Tel Aviv, dan media Israel melaporkan bahwa rudal tersebut menembus sebagian pertahanan udara, meskipun tidak menyebabkan korban. Insiden ini menunjukkan peningkatan kemampuan Houthi untuk menjangkau target strategis di Israel.

25 Desember 2024

Sebuah drone Houthi meledak di zona industri Ashkelon, menyebabkan kerusakan kecil. Insiden ini menegaskan bahwa Houthi tidak hanya mengandalkan rudal tetapi juga drone jarak jauh, yang lebih sulit dideteksi karena ukuran dan ketinggiannya yang rendah.

Tantangan dan Prospek Masa Depan

Tantangan

  • Kapasitas Houthi: Meskipun menghadapi serangan balasan, Houthi terus meluncurkan rudal dan drone, menunjukkan ketahanan logistik dan dukungan eksternal dari Iran.

  • Pertahanan Israel: Serangan berulang dapat menguras sumber daya pertahanan udara Israel, terutama jika Houthi meningkatkan frekuensi atau menggunakan taktik serangan gabungan (rudal dan drone).

  • Krisis Kemanusiaan di Yaman: Serangan balasan AS dan Inggris memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman, dengan lebih dari 24 juta orang membutuhkan bantuan pada 2025, menurut laporan PBB.

  • Eskalasi dengan Iran: Serangan Houthi meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara Israel dan Iran, yang dapat memicu konflik regional yang lebih luas.

Prospek

  • Diplomasi: Upaya mediasi oleh Qatar dan Mesir untuk memperpanjang gencatan senjata Israel-Hamas dapat meredam serangan Houthi, tetapi ini bergantung pada kemajuan negosiasi damai di Gaza.

  • Teknologi Pertahanan: Israel kemungkinan akan meningkatkan investasi dalam sistem pertahanan laser, seperti Iron Beam, untuk melengkapi Arrow dan Iron Dome, mengurangi biaya pencegatan rudal.

  • Koalisi Internasional: AS dan sekutunya dapat memperluas Operasi Prosperity Guardian untuk mencegah serangan Houthi di Laut Merah, meskipun ini berisiko memicu eskalasi lebih lanjut.

Kesimpulan

Insiden rudal Houthi pada 20 Maret 2025, yang memicu sirene peringatan di Israel, menyoroti eskalasi konflik regional yang kompleks antara kelompok Houthi, Israel, dan kekuatan global seperti AS dan Iran. Meskipun rudal berhasil dicegat tanpa menyebabkan korban, serangan ini menegaskan kemampuan Houthi untuk menjangkau target strategis seperti Bandara Ben Gurion, sekaligus menantang sistem pertahanan udara canggih Israel. Dengan dukungan Iran dan narasi “perlawanan” yang kuat, Houthi terus menjadi aktor signifikan dalam dinamika Timur Tengah, meskipun serangan mereka memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman dan mengganggu perdagangan global. Respons Israel, yang menggabungkan pertahanan militer dan tekanan diplomatik, mencerminkan tantangan dalam menghadapi ancaman asimetris dari jarak 1.800 km. Di tengah polarisasi sentimen publik, seperti yang terlihat di X, konflik ini menunjukkan bahwa perdamaian di Timur Tengah memerlukan solusi diplomatik yang menyeluruh, bukan hanya respons militer.‍‍ Seperti pepatah Arab, “Angin tidak selalu berhembus sesuai keinginan kapal,” masa depan wilayah ini bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menavigasi badai konflik menuju stabilitas.

 

BACA JUGA: Detail Planet Saturnus: Karakteristik, Struktur, dan Keajaiban Kosmik

BACA JUGA: Cerita Rakyat Yunani: Warisan Mitologi dan Kebijaksanaan Kuno

BACA JUGA: Dampak Positif dan Negatif Media Sosial di Era 2025: Peluang dan Tantangan dalam Kehidupan Digital