Trump Unggah Foto Berpakaian Seperti Paus, Mengaku Ingin Jadi Pemimpin Gereja Katolik
samsguesthouse.com, 3 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Pada Mei 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia setelah mengunggah foto yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya mengenakan pakaian kepausan di platform media sosialnya, Truth Social, dan menyatakan keinginannya untuk menjadi pemimpin Gereja Katolik. Pernyataan ini diucapkan secara bercanda kepada wartawan pada 29 April 2025, menjelang konklaf kepausan untuk memilih pengganti Paus Fransiskus, yang meninggal dunia pada 21 April 2025. Tindakan ini memicu kontroversi global, dengan tanggapan yang bercampur antara dukungan dari pendukungnya dan kritik keras dari komunitas Katolik serta pengamat politik. Artikel ini akan membahas secara rinci, profesional, dan jelas peristiwa ini, termasuk konteks, reaksi, dampak, dan implikasinya terhadap hubungan Trump dengan Gereja Katolik serta lanskap politik global.
Latar Belakang Peristiwa
Kematian Paus Fransiskus
Paus Fransiskus, yang memimpin Gereja Katolik sejak 2013, meninggal dunia pada 21 April 2025, di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan, pada usia 88 tahun. Menurut laporan resmi, penyebab kematiannya adalah stroke yang diikuti oleh gagal jantung yang tidak dapat dipulihkan. Sebelumnya, Paus Fransiskus dirawat selama lima minggu di Rumah Sakit Gemelli, Roma, karena infeksi yang menyebabkan pneumonia ganda. Pemakamannya pada 26 April 2025 di Lapangan Santo Petrus dihadiri oleh lebih dari 50 kepala negara, termasuk Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump, serta ratusan ribu umat Katolik dari seluruh dunia. Prosesi pemakaman berlangsung dengan khidmat, dan tubuh Paus Fransiskus dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore, sesuai keinginannya untuk pemakaman sederhana yang melibatkan para migran, tahanan, dan kelompok marjinal lainnya.
Kematian Paus Fransiskus memicu proses konklaf untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik, yang dijadwalkan dimulai pada 7 Mei 2025. Sekitar 135 kardinal di bawah usia 80 tahun, termasuk Kardinal Timothy Dolan dari New York, akan berkumpul di Kapel Sistina untuk memilih paus berikutnya melalui serangkaian pemungutan suara rahasia.
Hubungan Trump dengan Gereja Katolik
Donald Trump, yang bukan Katolik melainkan Presbiterian, memiliki hubungan yang kompleks dengan Gereja Katolik. Selama kepresidenannya, ia sering kali bertentangan dengan Paus Fransiskus, terutama terkait isu imigrasi, perubahan iklim, dan keadilan sosial. Pada 2016, Paus Fransiskus secara terbuka mempertanyakan keimanan Trump sebagai Kristen karena rencananya membangun tembok perbatasan antara AS dan Meksiko, dengan menyatakan, “Seseorang yang hanya memikirkan membangun tembok dan bukan jembatan bukanlah Kristen.” Trump membalas dengan menyebut pernyataan itu “memalukan” dan menyatakan bahwa Paus akan berharap Trump menjadi presiden jika Vatikan diserang oleh ISIS.
Meski demikian, Trump juga berusaha membangun hubungan dengan komunitas Katolik di AS, yang merupakan basis pemilih penting. Pada pemilu 2024, Trump memenangkan 59% suara Katolik, meningkat dari 50% pada 2016, menunjukkan dukungan kuat dari kelompok ini meskipun ia bukan Katolik. Ia juga memiliki hubungan dekat dengan Kardinal Timothy Dolan, Uskup Agung New York, yang dianggap sebagai “kardinal favorit” Trump. Dolan memberikan doa pada pelantikan Trump pada 2017 dan 2025, serta memuji kepemimpinan Trump selama pandemi COVID-19 pada 2020.
Kronologi Peristiwa

Pernyataan Bercanda Trump
Pada 29 April 2025, saat meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri rapat umum memperingati 100 hari pertama masa jabatan keduanya, Trump ditanya oleh wartawan tentang preferensinya untuk pengganti Paus Fransiskus. Dengan senyuman, ia menjawab, “Saya ingin menjadi paus. Itu akan menjadi pilihan nomor satu saya.” Ia kemudian menambahkan bahwa ia tidak memiliki preferensi spesifik, tetapi memuji Kardinal Timothy Dolan, dengan berkata, “Kita punya kardinal dari tempat bernama New York yang sangat baik, jadi kita lihat apa yang terjadi.”
Pernyataan ini langsung memicu reaksi di media sosial dan outlet berita. Senator Republik Lindsey Graham mendukung candaan Trump dengan memposting di X, “Ini benar-benar kandidat kuda hitam, tetapi saya meminta konklaf kepausan dan umat Katolik untuk membuka pikiran mereka terhadap kemungkinan ini! Kombinasi Paus-Presiden pertama memiliki banyak kelebihan. Menunggu asap putih… Trump MMXXVIII!”
Unggahan Foto AI di Truth Social
Pada malam tanggal 2 Mei 2025, Trump mengunggah foto yang dihasilkan oleh AI di Truth Social, menampilkan dirinya mengenakan pakaian kepausan lengkap, termasuk jubah putih, solideo (topi kecil kepausan), dan salib pektoral. Foto ini tidak disertai keterangan, yang memicu spekulasi tentang maksudnya. Gedung Putih juga membagikan gambar tersebut di akun X resminya, meningkatkan jangkauan dan kontroversi.
Foto tersebut dengan cepat menjadi viral, memicu berbagai reaksi dari dukungan antusias hingga kecaman keras. Pendukung Trump, seperti akun X The MAGA Voice, memuji langkah ini, dengan berkomentar, “Donald Trump mengejutkan dunia dengan memposting gambar dirinya sebagai Paus berikutnya 🔥 Donald Trump akan menjadi salah satu Paus terbaik yang pernah hidup 🙏.” Sebaliknya, kritikus seperti seniman Chicago Art Candee menyebutnya “gila” dan “tidak waras,” sementara sejarawan Ruth Ben-Ghiat memperingatkan tentang “kultus pemimpin otoriter.”
Reaksi dan Kontroversi
Dukungan dari Pendukung Trump
Basis pendukung Trump, terutama dalam gerakan MAGA, menyambut unggahan ini sebagai candaan yang mencerminkan kepribadiannya yang berani dan tidak konvensional. Beberapa melihatnya sebagai kritik terhadap institusi tradisional, termasuk Gereja Katolik, yang mereka anggap terlalu progresif di bawah Paus Fransiskus. Misalnya, postingan di X dari akun pro-Trump menyatakan bahwa Trump sebagai paus akan “mengembalikan nilai-nilai tradisional” ke Gereja.
Senator Lindsey Graham dan beberapa tokoh konservatif lainnya memanfaatkan momen ini untuk memperkuat narasi bahwa Trump adalah “kandidat kuda hitam” yang dapat mengubah institusi global, meskipun secara jelas dalam nada bercanda. Dukungan ini mencerminkan strategi Trump untuk tetap relevan di media dengan pernyataan dan tindakan yang memicu perhatian.
Kecaman dari Komunitas Katolik dan Pengamat 
Unggahan foto Trump dan pernyataannya memicu kecaman keras dari umat Katolik dan pengamat politik, yang menganggap tindakan ini tidak hormat terhadap Gereja Katolik dan proses konklaf yang sakral. Beberapa komentar di media sosial mengecam Trump sebagai “narsis” dan “menghina,” dengan satu pengguna menulis, “Ini sangat tidak hormat dan ofensif. Republikan benar-benar memilih orang ini.” Pengguna lain menyebutnya “menjijikkan” dan “menghina proses yang kami, umat Katolik, lalui untuk memilih paus baru.”
Sejarawan Gereja Katolik di Universitas Oxford, Miles Pattenden, menyatakan kepada TIME bahwa dukungan Trump terhadap Kardinal Dolan tidak mungkin diterima dengan baik oleh kardinal lain, dan peluang paus Amerika, apalagi Trump, sangat kecil karena kekhawatiran akan ketidakseimbangan kekuatan global. Ia menambahkan bahwa konklaf cenderung tidak dipengaruhi oleh sentimen publik atau dukungan tokoh seperti Trump.
Beberapa kritikus juga menghubungkan tindakan ini dengan pola perilaku Trump yang dianggap mencerminkan “kompleks dewa” (god complex), terutama setelah perbandingan serupa dibuat dengan pernyataan Elon Musk, yang membandingkan dirinya dengan Gautam Buddha dalam konteks kepemimpinan Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE).
Tanggapan dari Vatikan
Newsweek melaporkan bahwa pihaknya menghubungi Vatikan melalui email pada malam tanggal 2 Mei 2025 untuk meminta komentar terkait unggahan Trump, tetapi hingga berita ini dipublikasikan, Vatikan belum memberikan tanggapan resmi. Sikap diam ini konsisten dengan pendekatan Vatikan yang cenderung menghindari komentar langsung terhadap kontroversi politik, terutama menjelang konklaf yang dianggap sebagai proses internal yang sakral.
Konteks Hubungan Trump dengan Kardinal Timothy Dolan
Trump secara khusus menyebutkan Kardinal Timothy Dolan, Uskup Agung New York, sebagai kandidat potensial untuk kepausan, meskipun ia menyatakan “tidak memiliki preferensi.” Dolan, yang dikenal sebagai tokoh konservatif dalam Gereja Katolik AS, memiliki hubungan dekat dengan Trump. Ia memimpin doa pada pelantikan Trump pada 2017 dan 2025, dan pada 2020, ia memuji Trump sebagai “teman baik” yang “sensitif terhadap perasaan komunitas agama.”
Namun, Dolan juga memiliki kontroversi sendiri, terutama terkait penanganan kasus pelecehan seksual di Keuskupan Agung Milwaukee, di mana ia pernah menjabat. Pada 2012, dokumen kebangkrutan mengungkapkan bahwa Dolan mengawasi pembayaran hingga US$20.000 kepada imam yang dituduh melakukan pelecehan untuk mendorong mereka mengundurkan diri, serta memindahkan beberapa imam alih-alih memecat mereka. Meski demikian, Dolan naik pangkat menjadi Uskup Agung New York pada 2009 dan diangkat sebagai kardinal oleh Paus Benediktus XVI pada 2012.
Meskipun Trump memuji Dolan, para ahli seperti Pattenden menilai bahwa Dolan bukanlah kandidat utama untuk kepausan. Kandidat yang lebih menonjol termasuk Kardinal Pietro Parolin (Italia), Luis Antonio Tagle (Filipina), dan Robert Sarah (Guinea).
Dampak dan Implikasi
Dampak pada Komunitas Katolik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5200143/original/076751500_1745673365-000_43K64J9.jpg)
Tindakan Trump memicu perpecahan dalam komunitas Katolik, terutama di AS, di mana umat Katolik terbagi antara pendukung Paus Fransiskus yang progresif dan sayap konservatif yang lebih selaras dengan nilai-nilai tradisional yang didukung Trump. Beberapa umat Katolik melihat candaan Trump sebagai penghinaan terhadap institusi yang mereka anggap suci, sementara lainnya, terutama pendukung MAGA, menganggapnya sebagai kritik terhadap modernisasi Gereja di bawah Fransiskus.
Pernyataan Trump juga menyoroti ketegangan antara sayap progresif dan tradisional dalam Gereja Katolik. Paus Fransiskus dikenal karena pendekatannya yang inklusif terhadap isu seperti imigrasi, perubahan iklim, dan komunitas LGBTQ+, yang sering kali bertentangan dengan pandangan konservatif Trump dan pendukungnya, termasuk tokoh seperti Steve Bannon, yang secara terbuka mengkritik Fransiskus dan mendorong Gereja kembali ke nilai-nilai tradisional.
Dampak Politik
Secara politik, tindakan Trump dapat dilihat sebagai strategi untuk mempertahankan perhatian media dan memperkuat basis pendukungnya, terutama di kalangan pemilih Katolik konservatif. Dengan memuji Kardinal Dolan dan bercanda tentang kepausan, Trump memposisikan dirinya sebagai tokoh yang berani menantang norma, sebuah taktik yang telah terbukti efektif dalam kampanye politiknya. Namun, ini juga berisiko mengasingkan pemilih Katolik moderat yang menghormati Paus Fransiskus dan menganggap tindakan Trump tidak sensitif.
Di panggung global, unggahan ini memperkuat persepsi bahwa Trump tidak menghormati tradisi diplomatik, sebagaimana terlihat dari pilihannya mengenakan setelan biru pada pemakaman Paus Fransiskus, yang memicu kritik karena melanggar kode berpakaian gelap yang dianggap sesuai. Meskipun Vatikan menyatakan bahwa tidak ada aturan ketat tentang pakaian, pilihan Trump dianggap sebagai pernyataan visual bahwa ia “bermain sesuai aturannya sendiri.”
Implikasi untuk Konklaf
Meskipun pernyataan dan unggahan Trump menarik perhatian media, para ahli menilai bahwa pengaruhnya terhadap konklaf akan sangat terbatas. Konklaf adalah proses internal yang sangat rahasia, dan kardinal cenderung tidak terpengaruh oleh opini publik atau dukungan tokoh politik. Selain itu, gagasan tentang paus Amerika, apalagi non-Katolik seperti Trump, dianggap tidak realistis karena kekhawatiran akan dominasi AS dalam kekuatan global.
Namun, dukungan Trump terhadap Dolan dapat meningkatkan visibilitas kardinal tersebut di kalangan umat Katolik AS, meskipun peluang Dolan untuk terpilih tetap kecil dibandingkan kandidat dari negara lain. Konklaf ini diperkirakan akan menjadi yang paling beragam secara geografis dalam sejarah Gereja, mencerminkan upaya Paus Fransiskus untuk menunjuk kardinal dari wilayah seperti Afrika dan Asia, yang kemungkinan akan mengurangi peluang paus Amerika.
Analisis: Strategi atau Provokasi?
Tindakan Trump dapat dianalisis dari dua perspektif:
-
Strategi Media dan Politik: Trump dikenal sebagai ahli dalam menarik perhatian media, dan unggahan foto AI serta candaan tentang kepausan adalah contoh klasik dari strateginya untuk tetap relevan. Dengan memicu kontroversi, ia memastikan bahwa namanya terus dibahas, baik oleh pendukung maupun kritikus, yang memperkuat pengaruhnya di panggung politik domestik dan internasional.
-
Provokasi terhadap Institusi: Beberapa pengamat, seperti Ruth Ben-Ghiat, melihat tindakan ini sebagai bagian dari pola kepemimpinan otoriter yang mencari validasi melalui simbolisme kekuasaan, bahkan dalam konteks agama. Dengan menggambarkan dirinya sebagai paus, Trump mungkin berusaha menantang otoritas Gereja Katolik, yang di bawah Fransiskus sering kali bertentangan dengan kebijakannya, terutama terkait imigrasi dan keadilan sosial.
Namun, tindakan ini juga menimbulkan risiko, terutama di kalangan umat Katolik yang menghormati Paus Fransiskus dan menganggap proses konklaf sebagai momen sakral. Kecaman dari komunitas Katolik dapat merusak dukungan Trump di antara pemilih Katolik moderat, meskipun basis konservatifnya kemungkinan akan tetap setia.
Kesimpulan
Unggahan foto AI Donald Trump berpakaian seperti paus pada Mei 2025, diikuti pernyataannya yang bercanda ingin menjadi pemimpin Gereja Katolik, adalah peristiwa yang mencerminkan kepribadiannya yang provokatif dan strateginya untuk mendominasi perhatian media. Meskipun memicu dukungan dari pendukung MAGA, tindakan ini menuai kecaman keras dari umat Katolik dan pengamat yang menganggapnya tidak hormat terhadap Gereja dan Paus Fransiskus, yang baru saja meninggal dunia.
Dalam konteks hubungannya dengan Gereja Katolik, tindakan ini mempertegas ketegangan antara Trump dan nilai-nilai progresif Paus Fransiskus, sambil menyoroti dukungannya untuk tokoh konservatif seperti Kardinal Timothy Dolan. Namun, pengaruhnya terhadap konklaf kepausan kemungkinan besar akan minimal, karena proses ini bersifat internal dan tidak dipengaruhi oleh sentimen publik.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menegaskan pola Trump dalam menggunakan simbolisme dan kontroversi untuk memperkuat pengaruh politiknya, tetapi juga menimbulkan risiko mengasingkan kelompok yang menghargai tradisi dan kesakralan institusi seperti Gereja Katolik. Sebagai momen yang memicu perdebatan global, ini akan tetap menjadi salah satu episode kontroversial dalam kepresidenan Trump yang penuh gejolak.
BACA JUGA: Masalah Sosial di Indonesia pada Tahun 1970-an: Konteks, Tantangan, dan Dampaknya
BACA JUGA: Perkembangan Pesat Teknologi di Tiongkok: Inovasi, Faktor Pendukung, dan Dampak Global
