Blog

Houthi Gempur Bandara Ben Gurion Israel: Upaya Cegah Pendaratan Pesawat AS dan Eskalasi Konflik Regional

samsguesthouse.com, 05 MEI 2025

Penulis: Riyan Wicaksono

Editor: Muhammad Kadafi

Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

 

Pada 4 Mei 2025, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan serangan rudal balistik hipersonik yang menargetkan Bandara Internasional Ben Gurion di dekat Tel Aviv, Israel. Serangan ini, yang diklaim sebagai aksi solidaritas dengan rakyat Palestina di Gaza, menyebabkan gangguan signifikan terhadap operasi bandara, termasuk penutupan sementara lalu lintas udara dan pembatalan penerbangan oleh beberapa maskapai internasional. Houthi juga mengeluarkan ancaman untuk memberlakukan “blokade udara menyeluruh” terhadap Israel, dengan tujuan mencegah penerbangan, termasuk pesawat Amerika Serikat (AS), yang dianggap mendukung operasi militer Israel. Serangan ini menandai eskalasi baru dalam konflik regional yang melibatkan Houthi, Israel, AS, dan Iran, di tengah ketegangan yang dipicu oleh perang Israel-Hamas di Gaza yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Artikel ini mengulas secara mendalam peristiwa serangan Houthi terhadap Bandara Ben Gurion, motif di baliknya, dampaknya terhadap penerbangan AS, respons internasional, dan implikasi geopolitik yang lebih luas, berdasarkan sumber-sumber terpercaya hingga Juni 2025.

Latar Belakang Konflik

  Houthi Yaman akui lakukan serangan rudal di Bandara Ben Gurion - ANTARA News

 

Profil Kelompok Houthi

Houthi, atau dikenal sebagai Ansar Allah, adalah kelompok pemberontak Syiah Zaidiyah yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak menggulingkan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada 2014. Didukung oleh Iran, Houthi telah memperluas kemampuan militer mereka, termasuk pengembangan rudal balistik dan drone jarak jauh, yang digunakan untuk menyerang target di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan kini Israel. Sejak Oktober 2023, Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan target-target Israel sebagai bentuk solidaritas dengan Hamas dan rakyat Palestina di Gaza, yang menghadapi operasi militer Israel menyusul serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.

Perang Israel-Hamas dan Eskalasi Regional

Perang di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina menurut otoritas kesehatan Gaza, telah memicu respons dari kelompok-kelompok dalam “Poros Perlawanan” yang didukung Iran, termasuk Houthi, Hamas, dan Hizbullah. Houthi, sebagai anggota terakhir dari aliansi ini yang masih mampu melancarkan serangan reguler terhadap Israel, telah menargetkan lebih dari 100 kapal dagang di Laut Merah sejak November 2023, menewaskan empat pelaut dan mengganggu perdagangan global senilai $1 triliun per tahun. Serangan mereka terhadap Israel, termasuk 28 rudal balistik dan puluhan drone sejak Maret 2024, menunjukkan peningkatan kapasitas militer dan ambisi geopolitik.

Bandara Ben Gurion: Target Strategis

Bandara Internasional Ben Gurion, terletak 12 mil dari Tel Aviv, adalah pusat transportasi udara utama Israel dan salah satu situs paling dijaga ketat di negara itu. Bandara ini melayani jutaan penumpang setiap tahun dan merupakan gerbang utama bagi penerbangan internasional, termasuk dari AS, sekutu terdekat Israel. Serangan Houthi pada 4 Mei 2025 menargetkan bandara ini untuk mengganggu operasi militer dan diplomatik Israel, sekaligus memberikan tekanan kepada AS, yang telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara terhadap Houthi sejak Maret 2025 untuk menghentikan serangan mereka di Laut Merah.

Detail Serangan Houthi pada 4 Mei 2025

  Israel Peringatkan akan Pembalasan setelah Serangan Houthi di Bandara: Ben  Gurion - Fusilat News

 

Kronologi Serangan

Pada pukul 09:30 waktu Israel (14:30 WIB), Houthi meluncurkan rudal balistik hipersonik yang diklaim memiliki teknologi siluman, jangkauan 2.150 km, dan kecepatan 16 kali kecepatan suara. Rudal ini menembus sistem pertahanan udara Israel, termasuk sistem Arrow jarak jauh dan baterai THAAD buatan AS yang ditempatkan di Israel. Rudal mendarat di dekat terminal utama Bandara Ben Gurion, meninggalkan kawah berdiameter puluhan meter di dekat jalan akses parkir Terminal 3, merusak jalan, dan membakar sebuah kendaraan.

  • Korban dan Kerusakan: Delapan orang terluka, empat di antaranya akibat ledakan dan dua lainnya saat berlari menuju tempat perlindungan. Tidak ada laporan korban jiwa, dan kerusakan infrastruktur bandara dilaporkan minimal.

  • Gangguan Penerbangan: Lalu lintas udara dihentikan selama sekitar 30–60 menit, menyebabkan kepanikan di antara penumpang. Beberapa maskapai asing, termasuk Lufthansa, Swiss, Austrian Airlines, Air France, dan Delta, membatalkan penerbangan ke dan dari Tel Aviv hingga setidaknya 6 Mei 2025. Data dari Flightradar24 menunjukkan Bandara Ben Gurion sebagai salah satu bandara paling terganggu secara global pada 4–5 Mei 2025.

  • Kegagalan Intersepsi: Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa kegagalan intersepsi disebabkan oleh “masalah teknis” pada interceptor, meskipun tidak ditemukan malfungsi pada sistem deteksi atau peringatan. Kegagalan ini memicu pertanyaan tentang efektivitas sistem pertahanan udara Israel terhadap rudal hipersonik Houthi.

Klaim dan Ancaman Houthi

Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, mengklaim serangan itu sebagai respons terhadap “genosida Israel di Gaza” dan menyatakan bahwa Bandara Ben Guriontidak lagi aman untuk perjalanan udara.” Houthi mengumumkan rencana untuk memberlakukan “blokade udara menyeluruh” dengan menargetkan bandara-bandara Israel secara berulang, memperingatkan maskapai internasional untuk menghentikan penerbangan ke Israel demi keselamatan pesawat dan penumpang.

Sumber Houthi kepada Newsweek pada 5 Mei 2025 mengungkapkan bahwa kelompok ini memiliki “senjata baru” yang mampu menegakkan blokade udara, meskipun jenis senjata tidak diungkap. Serangan ini dianggap sebagai pembuktian kemampuan Houthi untuk menyerang situs strategis Israel, meningkatkan reputasi mereka di antara kelompok-kelompok anti-Israel.

Dampak pada Penerbangan AS

Meskipun tidak ada bukti spesifik bahwa serangan ini secara langsung mencegah pendaratan pesawat AS, ancaman Houthi untuk menargetkan bandara Israel memengaruhi operasi maskapai AS seperti Delta, yang membatalkan penerbangan ke Tel Aviv setelah serangan. Bandara Ben Gurion sering digunakan untuk penerbangan diplomatik dan militer AS, termasuk pengiriman bantuan militer ke Israel. Ancaman Houthi menciptakan ketidakpastian bagi operasi udara AS, memaksa maskapai dan otoritas penerbangan untuk mengevaluasi risiko keamanan.

Houthi juga menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata dengan AS, yang dimediasi Oman pada Mei 2025, tidak mencakup serangan terhadap Israel. Perjanjian ini hanya menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah, memungkinkan mereka untuk terus menyerang Israel tanpa melanggar kesepakatan dengan AS. Hal ini memperumit upaya AS untuk menjaga stabilitas regional sambil mendukung Israel.

Respons Internasional

 

Yaman Gempur Bandara Ben Gurion Israel Pakai Rudal Hipersonik, Timur Tengah  di Persimpangan Baru? - Marawa Padang

 

Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjanjikan pembalasan terhadap Houthi dan Iran, yang dianggap sebagai dalang serangan. Dalam pernyataan pada 4 Mei 2025, Netanyahu berkata, “Israel akan menanggapi serangan Houthi terhadap bandara utama kami DAN, pada waktu dan tempat yang kami pilih, kepada penguasa teror Iran mereka.” Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengancam akan membalas “tujuh kali lipat” dan melancarkan serangan udara terhadap pelabuhan Hodeidah dan Bandara Internasional Sanaa pada 5–6 Mei 2025, menghancurkan tiga pesawat Yemenia Airways dan infrastruktur bandara.

IDF mengakui serangan itu sebagai pelanggaran keamanan besar dan sedang menyelidiki kegagalan sistem pertahanan udara. Serangan balasan Israel di Yaman menewaskan sedikitnya tujuh orang dan menyebabkan kerusakan senilai $500 juta di Bandara Sanaa, menurut otoritas Houthi.

Amerika Serikat

AS mengecam serangan Houthi, dengan juru bicara Dewan Keamanan Nasional James Hewitt menegaskan bahwa militer AS akan terus menyerang Houthi untuk mengakhiri ancaman mereka terhadap kebebasan navigasi di Laut Merah. Namun, pada 6 Mei 2025, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan menghentikan serangan terhadap Houthi setelah kelompok itu “menyerah” dan berjanji untuk tidak menyerang kapal dagang di Laut Merah. Pengumuman ini memicu kebingungan, karena Houthi menegaskan bahwa mereka akan terus menyerang Israel.

AS tidak terlibat dalam serangan balasan Israel di Yaman pada 5–6 Mei 2025, meskipun telah melakukan serangan sendiri di Sanaa pada hari yang sama, melukai 16 orang menurut laporan media Houthi.

Iran

Iran membantah keterlibatan langsung dalam serangan Houthi, dengan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh memperingatkan bahwa Iran akan menyerang pangkalan dan kepentingan AS serta Israel jika diserang. Iran disebut-sebut sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu menghindari pertahanan udara, tetapi tidak jelas apakah teknologi ini telah ditransfer ke Houthi.

Komunitas Internasional

  • PBB: Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyebut serangan Israel di Bandara Sanaa sebagai “eskalasi serius” yang memperburuk situasi regional yang sudah rapuh.

  • Oman: Oman, yang memediasi gencatan senjata antara AS dan Houthi, tidak mengomentari serangan Houthi di Israel, tetapi menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata tidak mencakup konflik dengan Israel.

  • Hamas: Kelompok militan Palestina memuji serangan Houthi, menyebut Yaman sebagai “kembaran Palestina” dalam melawan Israel.

Dampak dan Implikasi Rudal Houthi Sukses Serang Bandara Ben Gurion, Israel Marah dan Ancam Balas  Dendam

Dampak pada Penerbangan Internasional

Serangan Houthi menyebabkan gangguan signifikan terhadap penerbangan di Bandara Ben Gurion:

  • Pembatalan Penerbangan: Maskapai Eropa dan AS seperti Lufthansa, Air France, dan Delta membatalkan penerbangan hingga 6 Mei 2025, meninggalkan El Al, Arkia, dan Israir sebagai operator utama.

  • Ketergantungan pada El Al: Penghentian penerbangan asing meningkatkan ketergantungan Israel pada maskapai nasional, membebani kapasitas dan menaikkan harga tiket.

  • Ancaman Keamanan: Ancaman “blokade udara” Houthi menciptakan ketidakpastian bagi maskapai internasional, yang kini harus menilai risiko operasi di Israel.

Meskipun tidak ada bukti bahwa pesawat AS secara spesifik dicegah mendarat, ancaman Houthi memengaruhi persepsi keamanan penerbangan AS, terutama untuk misi diplomatik dan militer.

Implikasi Geopolitik

  1. Eskalasi Regional: Serangan Houthi dan serangan balasan Israel meningkatkan risiko konflik yang lebih luas, melibatkan AS, Iran, dan sekutu masing-masing.

  2. Kelemahan Sistem Pertahanan: Kegagalan sistem Arrow dan THAAD memicu kekhawatiran tentang kemampuan Israel dan AS untuk menangkal rudal hipersonik, terutama jika Iran meningkatkan dukungan teknologinya kepada Houthi.

  3. Krisis Kemanusiaan di Yaman: Serangan Israel di Bandara Sanaa mengganggu akses 20 juta warga Yaman di wilayah Houthi terhadap perawatan medis dan bantuan kemanusiaan, memperburuk krisis yang sudah parah.

  4. Diplomasi AS yang Rumit: Keputusan Trump untuk menghentikan serangan terhadap Houthi, sambil tetap mendukung Israel, menciptakan kontradiksi dalam kebijakan AS, melemahkan posisinya di kawasan.

  5. Peningkatan Reputasi Houthi: Keberhasilan Houthi menembus pertahanan Israel meningkatkan status mereka di antara kelompok anti-Israel, memperkuat narasi “Poros Perlawanan.”

Dampak di Indonesia

Di Indonesia, serangan Houthi terhadap Bandara Ben Gurion dilaporkan oleh media seperti Kompas, yang mengutip klaim Houthi tentang serangan rudal balistik. Sentimen di media sosial Indonesia cenderung mendukung aksi Houthi sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina, meskipun tidak ada dampak langsung terhadap hubungan diplomatik Indonesia-Israel, yang tetap terbatas. Komunitas Muslim Indonesia, yang aktif dalam kampanye pro-Palestina, memandang serangan ini sebagai bagian dari perlawanan terhadap Israel, meskipun pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan pernyataan resmi.

Tantangan dan Solusi

 

Israel Gempur Yaman Usai Serangan Rudal Houthi ke Bandara Tel Aviv - Global  Liputan6.com

 

Tantangan

  1. Kapasitas Rudal Houthi: Rudal hipersonik Houthi menunjukkan kemajuan teknologi yang sulit ditangkal, menantang sistem pertahanan Israel dan AS.

  2. Gangguan Penerbangan: Ancaman blokade udara Houthi dapat mengisolasi Israel dari penerbangan internasional, memengaruhi ekonomi dan diplomasi.

  3. Krisis Kemanusiaan: Serangan balasan Israel memperburuk penderitaan rakyat Yaman, memicu kritik dari komunitas internasional.

  4. Ketegangan AS-Israel: Perbedaan pendekatan AS dan Israel terhadap Houthi dapat melemahkan koordinasi sekutu.

Solusi yang Mungkin

  1. Peningkatan Sistem Pertahanan: Israel dan AS perlu mengembangkan teknologi untuk menangkal rudal hipersonik, termasuk peningkatan sensor dan interceptor.

  2. Diplomasi Regional: Mediasi oleh Oman atau negara netral lainnya dapat diperluas untuk mencakup gencatan senjata antara Houthi dan Israel, meskipun ini sulit mengingat posisi keras kedua pihak.

  3. Bantuan Kemanusiaan: Komunitas internasional, melalui PBB, dapat meningkatkan bantuan untuk Yaman untuk mengurangi dampak serangan Israel terhadap infrastruktur sipil.

  4. Koordinasi AS-Israel: AS dan Israel perlu menyelaraskan strategi untuk mengatasi ancaman Houthi tanpa memperburuk ketegangan regional.

Kesimpulan

Serangan Houthi terhadap Bandara Internasional Ben Gurion pada 4 Mei 2025 merupakan titik eskalasi penting dalam konflik regional yang melibatkan Israel, Houthi, AS, dan Iran. Dengan rudal balistik hipersonik yang menembus pertahanan Israel, Houthi berhasil mengganggu operasi bandara, memaksa pembatalan penerbangan internasional, dan mengancam penerbangan AS yang mendukung Israel. Meskipun tidak ada bukti langsung bahwa pesawat AS dicegah mendarat, ancaman “blokade udara” Houthi menciptakan ketidakpastian keamanan yang signifikan. Serangan balasan Israel terhadap Bandara Sanaa dan pelabuhan Hodeidah, serta janji AS untuk terus menyerang Houthi, menunjukkan bahwa konflik ini jauh dari selesai. Dengan implikasi geopolitik yang luas, termasuk krisis kemanusiaan di Yaman dan ketegangan dalam aliansi AS-Israel, peristiwa ini menyoroti kompleksitas konflik di Timur Tengah. Di Indonesia, serangan ini memperkuat solidaritas pro-Palestina, tetapi tidak mengubah dinamika diplomatik secara signifikan. Ke depan, solusi diplomatik dan teknologi diperlukan untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi lebih lanjut, meskipun tantangan tetap besar di tengah ambisi Houthi dan kerasnya respons Israel.

BACA JUGA: Panel Distribusi, Breaker, dan MCB: Fungsi, Komponen, dan Aplikasi dalam Sistem Kelistrikan

BACA JUGA: Hukum Acara (Formil): Pengertian, Prinsip, dan Penerapan di Indonesia

BACA JUGA: Badut-badut Politik: Fenomena, Dampak, dan Respons Masyarakat di Indonesia